Seperti membangun istana pasir,
Hancur disaat ombak datang ketepian.
Dan disaat ombak surut,
Kubangun lagi istana pasir yang lebih indah dari sebelumnya..
Ditopang oleh pilar-pilar penyangga harapan.
Dihiasi pernak-pernik angan tentang masa depan.
Kemudian ombak itu pun datang lagi,
Jauh lebih besar dari sebelumnya.
Menghancurkan setiap sudut dan lekuk,
Yang kubangun dengan penuh harap dan kesungguhan.
Meninggalkan jejak-jejak luka,
Lalu menyeretnya hingga ribuan mil,
Tak terjangkau oleh rasa dan pandangan mata, perih.. tak terkira.
Hancur disaat ombak datang ketepian.
Dan disaat ombak surut,
Kubangun lagi istana pasir yang lebih indah dari sebelumnya..
Ditopang oleh pilar-pilar penyangga harapan.
Dihiasi pernak-pernik angan tentang masa depan.
Kemudian ombak itu pun datang lagi,
Jauh lebih besar dari sebelumnya.
Menghancurkan setiap sudut dan lekuk,
Yang kubangun dengan penuh harap dan kesungguhan.
Meninggalkan jejak-jejak luka,
Lalu menyeretnya hingga ribuan mil,
Tak terjangkau oleh rasa dan pandangan mata, perih.. tak terkira.
Aku tak ingin mendekam perih itu terlalu lama,
Namun apakah ia akan sirna jika kubangun lagi istana pasir yang sama..??
Atau mungkin hanya akan menambah kehancuran,
Yang menyeret luka semakin dalam ke palung jiwa.
Rabb, ampunilah..
Ditengah semua kesombongan²ku, aku bukanlah apa²..
Aku hanyalah makhluk kerdil,
Yang rindu akan penghambaan mendekati sempurna.
Menghela nafas panjang mengingat dosa,
Yang menitikkan airmata berjuta harap,
Akan Rahman-Mu, akan Rohim-Mu.
Aku tau akan diamku,
Seperti Engkau tau akan "Diam"-Mu.
Engkau pun tau akan diamku,
Tak seperti ku yang tak mengerti akan "Diam"-Mu.
13032011, 02.18.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar