Ayat Ayat Cinta_Full
Tetralogi Laskar Pelangi_Laskar Pelangi
Tetralogi Laskar Pelangi_Edensor
Tetralogi Laskar Pelangi_Sang Pemimpi
La Tahzan
Ketika Cinta Bertasbih_Episode 1
Ketika Cinta Bertasbih_Episode 2
Tuhan tak pernah salah, Pemikiran manusia lah yang membuat dirinya merasa lebih benar dari Tuhan.
Senin, 29 November 2010
Senin, 22 November 2010
Derajat Manusia
Bagaimana kita memandang derajat seorang manusia? Apakah dari kekayaannya, ataukah dari pangkatnya, atau jabatannya, atau kedudukan sosialnya di tengah masyarakat? Tanpa kita sadari, mungkin kita sering memandang derajat seseorang berdasarkan hal-hal di atas. Sering kita bersikap hormat pada orang yang tinggi jabatannya, atau tinggi pangkatnya, atau tinggi pendidikannya, sementara kepada orang yang rendah pendidikannya, kekurangan dalam segi ekonomi, atau tidak punya status sosial di masyarakat, kita bersikap kurang hormat.
Padahal, buat seorang muslim, ”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (Q.S. 49:13) . Jadi ternyata Allah punya ukuran tersendiri tentang derajat kemuliaan seorang manusia. Dan apa yang dimaksud dengan takwa?
Ini mengimplikasikan bahwa kekayaan, jabatan, pangkat, dsb. yang diberikan oleh manusia tidaklah menjamin kemuliaannya di sisi Allah. Seorang abang penarik becak mungkin lebih mulia (di sisi Allah) daripada seorang pejabat tinggi yang suka korupsi. Seorang polisi berpangkat rendah yang jujur mungkin lebih mulia daripada seorang jenderal yang suka mengambil hak orang lain. Seorang guru di sekolah dasar di desa terpencil mungkin lebih mulia daripada seorang guru besar yang melakukan plagiarisme. Memang idealnya adalah, seseorang yang sukses secara duniawi, dan dia bertakwa pula. Jenderal yang saleh, guru besar yang saleh, pejabat tinggi yang saleh. Untuk orang-orang seperti itu, jabatan, kekayaan, dan pangkatnya menjadi sarana untuk beribadah lebih banyak, beramal saleh lebih banyak, berderma lebih banyak. Namun tidak semua orang diberi rezeki dan kesempatan untuk bisa mencapai tingkatan tinggi seperti itu.
Kita sering memandang dengan sebelah mata orang-orang yang –katakanlah- kurang dalam pandangan manusia: rendah pendidikannya, kekurangan dalam segi ekonomi, pangkatnya rendah di pekerjaan, dll. Kita jarang mencoba melihat aspek-aspek kemanusiaan dirinya: kejujurannya, semangatnya, pengorbanannya untuk keluarga, kecintaannya pada pekerjaan, dll. Hal-hal itu memang sulit diukur, tapi justru itulah mungkin yang menjadi standar kemuliaan seseorang di sisi-Nya. Sebaliknya, pangkat, jabatan, kekayaan, seringkali bukanlah hasil murni usaha seseorang, melainkan merupakan hasil dari campur tangan dan bantuan dari orang lain. Misalnya, seseorang menjadi kaya tak lepas dari bantuan orang lain: pegawainya, rekanan kerjanya, konsumen perusahaannya, dll. Bahkan orang miskin pun turut menyumbang status dia sebagai orang kaya (kalau gak ada orang miskin, gak ada orang yang disebut kaya).
Tapi kita seringkali lupa dengan kenyataan itu, dan memandang bahwa derajat tersebut dicapai dari hasil kerja kerasnya sendiri. Orang pun menjadi miskin ataupun pendidikannya rendah seringkali bukan karena kekurangmampuannya. Banyak faktor luar yang menyebabkan dia menjadi miskin atau berpendidikan rendah, misalnya karena orang tua yang tidak mampu menyekolahkan dll. Selayaknyalah kita memandang orang lain berdasarkan karakternya. Memang ini akan terasa sulit. Tapi mungkin itu di situ pula-lah nilai kejujuran kita, kemampuan menilai orang bukan dari hal-hal yang ada di permukaan, melainkan lebih kepada nilai hakikinya, sisi-sisi kemanusiaannya.
Wallahu a’lam.
Wallahu a’lam.
DERAJAT KEMULIAAN
Alangkah bahagianya bila seseorang mengetahui bagaimana menjadi seorang hamba Allah yang tertuntun dalam cahaya Islam. Dia tidak akan merelakan sesaat pun kecuali menjadi jalan untuk mendapatkan curahan kasih sayang dan keridhaan-Nya.
Dia selalu mewaspadai segala sikapnya. Pandangannya disiapkan untuk menjadi mata yang dapat memandang Allah di akhirat kelak. Dia menahan diri dari segala hal yang tidak diridhai-Nya. Dia juga menjaga pendengaran dan mempersiapkannya menjadi telinga yang hanya mendengar hal-hal yang baik.
Ditutupnya rapat-rapat segala ucapan hina, suara yang kotor dan sia-sia, yang membuat hati membatu. Namun sebaliknya, dibukanya lebar-lebar segala ucapan dan suara-suara yang dapat membuatnya semakin mengenal dan mengerti Rabb-nya.
Dia tidak terjebak mempersulit masalah urusan duniawi, tetapi dia mengarahkan kekuatan pikirannya untuk menerjemahkan segala urusan dan kejadian di sekitarnya, sehingga menjadi sarana untuk semakin mengenal dan mengagumi kehebatan Zat Maha Kuasa dan Maha Penentu Segala-galanya. la tidak sempit dan picik pandangan, tetapi luas dan sangat dalam.
Lisannya jauh dari selera rendah. Perhitungannya senantiasa matang, berpikir sebelum berucap, sehingga kata-katanya benar-benar bermutu, menyejukkan, dan merasuk lembut menyentuh kalbu. Sementara lidahnya selalu basah menyebut asma-asma-Nya.
Ia tak pernah jemu memohon pertolongan Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang agar hatinya tetap jernih karena dia sangat yakin bahwa tidak akan pernah ada ketenangan dan kemuliaan, kecuali dengan hati yang bersih dan jernih, tidak akan pernah seseorang merasakan kenikmatan dan kelezatan taat, kecuali dengan hati yang bersih dan tidak akan pernah ada seorang mengenal, mencintai, dan merindukan pertemuan dengan Allah, kecuali dengan hati yang bersih.
Setiap panggilan azan berkumandang, ia tidak pernah menunda-nunda langkahnya menuju rumah Allah. Dia berwudhu dan wudhunya senantiasa bersih dan sempurna. Hari-harinya sarat dengan sujud dan ibadah dalam rangka menggapai karunia-Nya.
Wahai saudaraku, sama sekali tidak sulit bagi Allah memilih kita menjadi orang yang mulia. Oleh karena itu, berjuanglah sekuat tenaga sehingga Allah memandang layak untuk menempatkan kita dalam kursi kemuliaan.
Kehidupan manusia memang sungguh tak ubahnya seperti roda berputar. Kadang ia berada di atas, tetapi pada saat yang lain tiba-tiba berada di bawah. Hari ini seseorang mungkin tengah asyik dan terlena menikmati karunia kemuliaan. Akan tetapi esok lusa, mungkin ia jatuh terpuruk menjadi makhluk yang hina dina. Hidup berlumuran aib, sehingga ke mana pun kakinya melangkah, cercaan, celaan, dan cibiran sehantiasa menimpanya. Beruntunglah jika semua itu sekadar ujian dari Allah. Akan tetapi, sungguh amat celaka bile semua itu berupa laknat Allah.
Sayangnya, manusia telah mabuk dengan gemerincing harta, pangkat, dan kedudukan, serta beranggapan bahwa kemuliaan akan datang bilamana segala aksesori duniawi itu tergenggam erat di tangan. Padahal, hal-hal seperti itulah yang dapat membuat penyakit amat berbahaya yang sangat potensial menjadi penghancur kemuliaan seseorang.
Jika ingin derajat kemuliaan kita diangkat oleh Allah, kuncinya terletak pada sejauh mana kesungguhan kita mendekatkan diri kepada-Nya.
Sekiranya seorang hamba senatiasa berjuang keras untuk meningkatkan mutu ibadahnya, niscaya ia akan menyaksikan betapa kasih sayang Allah itu nyaris tak ada jarak dengan hamba-Nya. Salah satunya ialah meningkatkan mutu ibadah mahdhah kita, misalnya, pada saat kita wudhu menjelang shalat. Seyogianya bagi kita harus ada wudhu yang lebih tinggi lagi nilainya, sehingga ketika berwudhu itu kita akan mendapatkan banyak pelajaran. Ketika membasuh tangan, kita bisa mengevaluasi aib-aib dan maksiat yang pernah dilakukan oleh tangan.
Begitu seterusnya ketika membasuh anggota badan lainnya. Dengan kata lain, proses wudhu itu benar-benar dinikmati sebagai pengguguran dosa-dosa kecil dalam rangka penyiapan mental karena kita akan menghadap Allah.
Selanjutnya, kita juga harus mulai belajar menikmati shalat yang bermutu.
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya." (QS. al-Mu'minun [23] : 1-2)
Kalau shalat itu dilakukan dengan mutu yang tinggi, dampaknya sungguh luar biasa. Dengan shalat yang bermutu, Allah akan memberikan kejernihan berpikir dan ide-ide akan lebih mudah dituangkan sehingga kita lebih lapang dalam menjalani hidup ini.
Marilah terus evaluasi aspek ibadah mahdhah kita agar senantiasa meningkat mutunya. Selain ibadah mahdhah, kita harus menyempurnakan pula aspek ibadah pendukung lainnya, seperti ibadah-ibadah sunah serta setiap perbuatan yang bersifat maslahat.
Semua ibadah ini harus mendapat perhatian yang optimal. Perjalanan waktu yang kita lalui haruslah menjadi momentum penambahan mutu diri kita. Apa pun amalan yang kita lakukan, hendaknya ditargetkan utuh diterima oleh Allah. Intinya adalah bahwa kita harus senantiasa sungguh-sungguh berjuang agar amalan kita tetap terjaga kualitasnya. Semoga, dengan demikian, kita termasuk orang yang dapat meraih derajat kemuliaan di sisi Allah. Amin. Wallahualam.***
[Ditulis oleh KH. ABDULLAH GYMNASTIAR, Pimpinan Pondok Pesantren "DAARUT TAUHID" Bandung,
Dia selalu mewaspadai segala sikapnya. Pandangannya disiapkan untuk menjadi mata yang dapat memandang Allah di akhirat kelak. Dia menahan diri dari segala hal yang tidak diridhai-Nya. Dia juga menjaga pendengaran dan mempersiapkannya menjadi telinga yang hanya mendengar hal-hal yang baik.
Ditutupnya rapat-rapat segala ucapan hina, suara yang kotor dan sia-sia, yang membuat hati membatu. Namun sebaliknya, dibukanya lebar-lebar segala ucapan dan suara-suara yang dapat membuatnya semakin mengenal dan mengerti Rabb-nya.
Dia tidak terjebak mempersulit masalah urusan duniawi, tetapi dia mengarahkan kekuatan pikirannya untuk menerjemahkan segala urusan dan kejadian di sekitarnya, sehingga menjadi sarana untuk semakin mengenal dan mengagumi kehebatan Zat Maha Kuasa dan Maha Penentu Segala-galanya. la tidak sempit dan picik pandangan, tetapi luas dan sangat dalam.
Lisannya jauh dari selera rendah. Perhitungannya senantiasa matang, berpikir sebelum berucap, sehingga kata-katanya benar-benar bermutu, menyejukkan, dan merasuk lembut menyentuh kalbu. Sementara lidahnya selalu basah menyebut asma-asma-Nya.
Ia tak pernah jemu memohon pertolongan Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang agar hatinya tetap jernih karena dia sangat yakin bahwa tidak akan pernah ada ketenangan dan kemuliaan, kecuali dengan hati yang bersih dan jernih, tidak akan pernah seseorang merasakan kenikmatan dan kelezatan taat, kecuali dengan hati yang bersih dan tidak akan pernah ada seorang mengenal, mencintai, dan merindukan pertemuan dengan Allah, kecuali dengan hati yang bersih.
Setiap panggilan azan berkumandang, ia tidak pernah menunda-nunda langkahnya menuju rumah Allah. Dia berwudhu dan wudhunya senantiasa bersih dan sempurna. Hari-harinya sarat dengan sujud dan ibadah dalam rangka menggapai karunia-Nya.
Wahai saudaraku, sama sekali tidak sulit bagi Allah memilih kita menjadi orang yang mulia. Oleh karena itu, berjuanglah sekuat tenaga sehingga Allah memandang layak untuk menempatkan kita dalam kursi kemuliaan.
Kehidupan manusia memang sungguh tak ubahnya seperti roda berputar. Kadang ia berada di atas, tetapi pada saat yang lain tiba-tiba berada di bawah. Hari ini seseorang mungkin tengah asyik dan terlena menikmati karunia kemuliaan. Akan tetapi esok lusa, mungkin ia jatuh terpuruk menjadi makhluk yang hina dina. Hidup berlumuran aib, sehingga ke mana pun kakinya melangkah, cercaan, celaan, dan cibiran sehantiasa menimpanya. Beruntunglah jika semua itu sekadar ujian dari Allah. Akan tetapi, sungguh amat celaka bile semua itu berupa laknat Allah.
Sayangnya, manusia telah mabuk dengan gemerincing harta, pangkat, dan kedudukan, serta beranggapan bahwa kemuliaan akan datang bilamana segala aksesori duniawi itu tergenggam erat di tangan. Padahal, hal-hal seperti itulah yang dapat membuat penyakit amat berbahaya yang sangat potensial menjadi penghancur kemuliaan seseorang.
Jika ingin derajat kemuliaan kita diangkat oleh Allah, kuncinya terletak pada sejauh mana kesungguhan kita mendekatkan diri kepada-Nya.
Sekiranya seorang hamba senatiasa berjuang keras untuk meningkatkan mutu ibadahnya, niscaya ia akan menyaksikan betapa kasih sayang Allah itu nyaris tak ada jarak dengan hamba-Nya. Salah satunya ialah meningkatkan mutu ibadah mahdhah kita, misalnya, pada saat kita wudhu menjelang shalat. Seyogianya bagi kita harus ada wudhu yang lebih tinggi lagi nilainya, sehingga ketika berwudhu itu kita akan mendapatkan banyak pelajaran. Ketika membasuh tangan, kita bisa mengevaluasi aib-aib dan maksiat yang pernah dilakukan oleh tangan.
Begitu seterusnya ketika membasuh anggota badan lainnya. Dengan kata lain, proses wudhu itu benar-benar dinikmati sebagai pengguguran dosa-dosa kecil dalam rangka penyiapan mental karena kita akan menghadap Allah.
Selanjutnya, kita juga harus mulai belajar menikmati shalat yang bermutu.
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya." (QS. al-Mu'minun [23] : 1-2)
Kalau shalat itu dilakukan dengan mutu yang tinggi, dampaknya sungguh luar biasa. Dengan shalat yang bermutu, Allah akan memberikan kejernihan berpikir dan ide-ide akan lebih mudah dituangkan sehingga kita lebih lapang dalam menjalani hidup ini.
Marilah terus evaluasi aspek ibadah mahdhah kita agar senantiasa meningkat mutunya. Selain ibadah mahdhah, kita harus menyempurnakan pula aspek ibadah pendukung lainnya, seperti ibadah-ibadah sunah serta setiap perbuatan yang bersifat maslahat.
Semua ibadah ini harus mendapat perhatian yang optimal. Perjalanan waktu yang kita lalui haruslah menjadi momentum penambahan mutu diri kita. Apa pun amalan yang kita lakukan, hendaknya ditargetkan utuh diterima oleh Allah. Intinya adalah bahwa kita harus senantiasa sungguh-sungguh berjuang agar amalan kita tetap terjaga kualitasnya. Semoga, dengan demikian, kita termasuk orang yang dapat meraih derajat kemuliaan di sisi Allah. Amin. Wallahualam.***
[Ditulis oleh KH. ABDULLAH GYMNASTIAR, Pimpinan Pondok Pesantren "DAARUT TAUHID" Bandung,
Minggu, 21 November 2010
Engkau Maha Adil Rabb.. :'(
Tuhan tak pernah Salah...
Pemikiran manusia lah yang membuat dirinya menjadi lebih benar dari Tuhan.
~ MataHati ~
Al-Quran tidak menentukan secara rinci tentang siapa yang dikawini,
tetapi hal tersebut diserahkan kepada selera masing-masing:
"Maka kawinilah siapa yang kamu senangi dari wanita-wanita"(QS An-Nisa [4]:3)
Meskipun demikian, Nabi Muhammad Saw. menyatakan,
Biasanya wanita dinikahi karena hartanya, atau
keturunannya, atau kecantikannya, atau karena agamanya.
Jatuhkan pilihanmu atas yang beragama, (karena kalau tidak) engkau akan sengsara.
(Diriwayatkan melalui Abu Hurairah).
“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani).
Pemikiran manusia lah yang membuat dirinya menjadi lebih benar dari Tuhan.
~ MataHati ~
Al-Quran tidak menentukan secara rinci tentang siapa yang dikawini,
tetapi hal tersebut diserahkan kepada selera masing-masing:
"Maka kawinilah siapa yang kamu senangi dari wanita-wanita"(QS An-Nisa [4]:3)
Meskipun demikian, Nabi Muhammad Saw. menyatakan,
Biasanya wanita dinikahi karena hartanya, atau
keturunannya, atau kecantikannya, atau karena agamanya.
Jatuhkan pilihanmu atas yang beragama, (karena kalau tidak) engkau akan sengsara.
(Diriwayatkan melalui Abu Hurairah).
“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani).
TAK PERNAH SETENGAH HATI by TOMPI.m4v
Tak pernah setengah hati
Tak pernah setengah hati
Ku mencintaimu ku memiliki dirimu
Setulus-tulusnya jiwa
Ku serahkan semua hanya untukmu
...Tak pernah aku niati untuk melukaimu
Atau meninggalkan dirimu
Sesal ku selalu bila tak sengaja
Aku buat kau menangis
Memiliki mencintai dirimu kasihku
Tak akan pernah membuat diriku menyesal
Sungguh matiku
Hidupku 'kan selalu membutuhkan kamu
nineball-hingga akhir waktu
Hingga Akhir Waktu
Ku coba untuk melawan hati
Tapi hampa terasa di sini tanpamu
Bagiku semua sangat berarti lagi
Kuingin kau disini
Tepiskan sepiku bersamamu
***
Tak `kan pernah ada yg lain disisi
Segenap jiwa hanya untukmu
Dan tak `kan mungkin ada yg lain disisi
Ku ingin kau disini tepiskan sepiku bersamamu...
Bagiku semua sangat berarti
Kuingin kau disini
Bagiku semua sangat berarti lagi
Kuingin kau disini
Tak `kan pernah ada yg lain disisi
Segenap jiwa hanya untukmu
Dan tak `kan mungkin ada yg lain disisi
Ku ingin kau disini tepiskan sepiku bersamamu...
Hingga akhir waktu ...
Sabtu, 20 November 2010
After Pray
Aku tak pernah mempertanyakan keadilan-Mu Rabb..
meski impian² dan harapan² itu telah jauh tinggi terbangkanku
dan ketika ku melayang jatuh, tubuh dan jiwaku ikut hancur dan binasa..
tak pernah sekalipun aku meragukan Keadilan-Mu.
bahkan aku bersyukur,
kuasa-Mu telah membuka Dho'ifnya qolbu.
yang bersemayam dalam segumpal darah..
dan bisa meleleh seperti airmata,
kala ku bersujud memohon ampun dosa.
Hanya Ridho-Mu yang ku pinta Rabb..
untuk keyakinan, niat dan tujuan..
yang terhalang oleh kerasnya tembok kasta tangan manusia,
Membutakan Mata Hati, melemahkan kepastian yang telah KAU Tetapkan..
Hanya Ridho-Mu..
Agar Ruh-ku tak lagi lemah karena bersedih,
meratapi tubuh dan jiwa yang telah hancur dan binasa.
04.45 - 05.10
~ Respect ~
Damul 'Izzi
Di Maqamat al-Hubb..
kulantunkan senandung do'a
dipersimpangan harap dan putus asa..
ditengah letih dan airmata.
Menguak Tirai hati yang kian pekat
diselimuti gemerlap wangi dunia.
**
Duhai Kekasih..
yang kan menghiasi hati dengan senyuman..
Aku takkan membisikkan kata-kata pemikat hati kepadamu,
kata-kata yang hanya kan membuat kita terbuai tak berarti..
kosong tanpa isi..
lalu hilang tanpa makna.
aku hanya ingin membisikkan sebaris kata istighfar..
agar kita senantiasa ingat kepada-Nya
lalu terlelap dengan airmata yg masih membasah
setelah lelah memohon ampun dosa.
kulantunkan senandung do'a
dipersimpangan harap dan putus asa..
ditengah letih dan airmata.
Menguak Tirai hati yang kian pekat
diselimuti gemerlap wangi dunia.
**
Duhai Kekasih..
yang kan menghiasi hati dengan senyuman..
Aku takkan membisikkan kata-kata pemikat hati kepadamu,
kata-kata yang hanya kan membuat kita terbuai tak berarti..
kosong tanpa isi..
lalu hilang tanpa makna.
aku hanya ingin membisikkan sebaris kata istighfar..
agar kita senantiasa ingat kepada-Nya
lalu terlelap dengan airmata yg masih membasah
setelah lelah memohon ampun dosa.
Langganan:
Postingan (Atom)