Pernahkan kau bertanya, tentang apa yang selalu kita rayakan pada tanggal 17 disetiap bulan agustus?
Jika kau jawab itu peringatan hari kemerdekaan,
maka aku bertanya, teman.. kemerdekaan atas apa?
Adakah kemerdekaan diatas perut² lapar membusung?
Adakah kemerdekaan diatas hak-hak yang terpasung?
Adakah kemerdekaan diatas keadilan yang terpancung?
Maaf teman, sedikitpun aku tak bermaksud mengecilkan arti sebuah perjuangan
Perjuangan yang harus ditebus dengan tetesan darah dan airnata.. sama sekali tidak.
Namun jika kulihat rupa jaman, ini hanyalah penjajahan yang berganti muka.
Citarasanya sama, bentuknya saja yang berbeda.
Hitunglah berapa dekade yang sudah dilalui teks itu, teman.. dan kau lihatlah hasilnya.
Maka jika kau katakan sekarang kita punya gedung-gedung bertingkat..
Teman, kukatakan kau sesuatu.. 3500 tahun yang lalu Fir'aun pun mampu membangun piramida
tapi marilah kita tengok juga rakyatnya, tak cuma fir'aunnya.
Dan sekarang aku rasa lebih ironis lagi adanya..
ketika hajat yang menyangkut lebih dari 200 juta jiwa,
diserahkan kepada standar internasional yang menentukannya.
Harga Minyak dengan Standar Internasional, teman.. Standar Internasional!!
Lalu tau apa petani ladang, nelayan, buruh pabrik, tentang Standar Internasional??
ketika yang mereka tau hanyalah harga bahan pengisi perut yang selalu melonjak,
sedang mereka harus terus menerus bertarung disegala cuaca..
demi menghidupi anak istrinya.
Kau tau teman, seharusnya negeri ini bisa menguasai 2/3 belahan dunia..
Sayang mata mereka buta, hati mereka batu..
Sehingga Negeri ini hanya jadi Negeri dari sekumpulan badut yang tak pandai melucu.
dan kau lihatlah, teman..
Perut mereka..!!
Pakaian mereka..!!
Rumah mereka..!!
Kendaraan mereka..!!
Tabungan mereka..!!
Sejahtera bukan..??
Badut - badut ini tak perlu berkeliaran dijalanan, teman..
tak memakai rambut palsu, apalagi mencoreng moreng muka mereka sendiri.
mereka cukup duduk - duduk santai diatas kursi empuk,
yang ke-empat kakinya berpijak diatas keringat dan airmata kaum jelata.